Sabtu, 24 September 2011

Pencerahan Sejati—Dimana Anda Dapat Menemukannya?


A man looking for a book in a library

TRUE
ENLIGHTENMENT
Where Can You Find It?

UPAYA MENCARI
PENCERAHAN

”TIDAK berpengetahuan tidak lebih baik daripada berpengetahuan,” kata Laura Fermi, istri fisikawan terkenal, Enrico Fermi. Ada yang mungkin berpendapat lain karena berpikir bahwa tidak ada ruginya jika orang tidak berpengetahuan. Namun, menurut kebanyakan orang, pernyataan tersebut mengandung kebenaran, tidak hanya di bidang penelitian ilmiah tetapi juga di bidang-bidang lain dalam kehidupan. Tidak berpengetahuan, dalam arti tidak mengetahui kebenaran, telah membuat banyak orang tersandung-sandung dalam kegelapan intelektual, moral, dan rohani selama berabad-abad.—Efesus 4:18.
Itulah sebabnya para pemikir mencari pencerahan. Mereka ingin tahu mengapa kita lahir dan apa masa depan kita. Dalam upaya tersebut mereka telah menempuh berbagai jalur. Mari kita bahas dengan singkat beberapa jalur itu..

Melalui Jalur Agama?

Menurut ajaran turun-temurun Buddhis, Siddhārtha Gautama sang pendiri Buddhisme, sangat resah melihat penderitaan dan kematian manusia. Ia bertanya kepada para guru Hindu untuk membantu dia menemukan ”jalan menuju kebenaran”. Ada guru-guru yang menyarankan yoga dan penyangkalan diri yang ekstrem. Gautama akhirnya memilih proses meditasi pribadi yang intensif sebagai jalan menuju pencerahan sejati.
Orang-orang lain telah menggunakan berbagai obat pemicu halusinasi. Dewasa ini, misalnya, para anggota Gereja Penduduk Asli Amerika mengatakan bahwa peyote—kaktus yang mengandung zat pemicu halusinasi—adalah ”penyingkap pengetahuan yang tersembunyi”.
Filsuf Prancis dari abad kedelapan belas, Jean-Jacques Rousseau, percaya bahwa orang yang benar-benar mencari tahu bisa mendapat penyingkapan rohani secara pribadi dari Allah. Bagaimana? Dengan mendengarkan ”apa yang Allah katakan kepada hati”. Lalu,perasaanSaudara—apa yang emosi dan hati nurani Saudara katakan—akan menjadi ”pembimbing yang lebih meyakinkan dalam lorong-lorong pendapat manusia yang simpang siur”, kata Rousseau.—History ofWesternPhilosophy.

Melalui Jalur Nalar?

Banyak orang yang sezaman dengan Rousseau menolak dengan keras pendekatan religius seperti itu. Voltaire yang juga berasal dari Prancis, misalnya, merasa bahwa agama, bukannya memberikan pencerahan, malah telah menjadi faktor utama yang menjerumuskan Eropa ke dalam abad-abad kebodohan, takhayul, dan tanpa toleransi selama periode yang oleh beberapa sejarawan disebut Zaman Kegelapan.
Voltaire menjadi bagian dari gerakan rasionalis Eropa yang dikenal sebagai Pencerahan. Pengikut gerakan ini kembali ke gagasan-gagasan orang Yunani kuno—yaitu, bahwa penalaran manusia dan penelitian ilmiah adalah kunci menuju pencerahan sejati. Anggota lain gerakan rasionalis, Bernard de Fontenelle, merasa bahwa penalaran manusia semata akan menuntun umat manusia ke ”abad yang akan semakin cerah dari hari ke hari, sehingga semua abad yang telah berlalu bisa dianggap lenyap ditelan kegelapan”.—Encyclopædia Britannica.
Ini barulah beberapa dari banyak gagasan yang saling bertentangan tentang cara memperoleh pencerahan. Apakah benar-benar ada ’pembimbing yang meyakinkan’, yang dapat kita gunakan untuk mencari kebenaran? Pikirkan keterangan dalam artikel berikut ini tentang sumber pencerahan yang dapat dipercaya.
Appeared in The Watchtower July 1, 2006
Salinan © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

Saksi-Saksi Yehuwa—Siapakah Mereka?

Jehovah's Witnesses sharing Bible truths

Jehovah’s Witnesses
Who Are They?

Apa yang Anda Ketahui tentang Saksi-Saksi Yehuwa?

A woman doing Internet research
“Saya banyak membaca tentang Saksi-Saksi Yehuwa di Internet dan mendengar selentingan serta banyak sekali omongan yang berprasangka,” tulis seorang reporter magang di Denmark. ”Akibatnya, terbentuklah pandangan yang sangat negatif tentang Saksi-Saksi Yehuwa
REPORTER itu lalu mewawancarai sebuah keluarga Saksi. Hasilnya? ”Pandangan saya tentang mereka berubah saat memasuki rumah mereka!” tulisnya. ”Mungkin orang-orang belum cukup mengenal mereka, atau mungkin kita terlalu cepat menghakimi. Seperti itulah saya. Dan, ternyata saya keliru.”—Cecilie Feyling, untuk Jydske Vestkysten.


Dari interaksinya dengan Saksi-Saksi Yehuwa dalam urusan pekerjaan, seorang konsultan sumber daya manusia untuk jaringan pertokoan di Eropa mengetahui bahwa mereka adalah karyawan yang jujur. Alhasil, ia senang mempekerjakan Saksi-Saksi.


Tentu saja, Saksi-Saksi Yehuwa dikenal terutama karena pekerjaan pemberitaan mereka. Mereka mendapati bahwa ada yang kurang senang membahas Alkitab, tetapi ada juga yang senang. Malah, lebih dari tujuh juta orang, di hampir setiap negeri, rutin belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi, dan beberapa dari pelajar ini belakangan menjadi guru Alkitab juga. Di Amerika Serikat, misalnya, laporan Dewan Gereja Nasional menyatakan bahwa dari 25 agama terbesar, Saksi-Saksi Yehuwa adalah 1 dari hanya 4 agama yang menunjukkan peningkatan.


Mengapa jutaan orang belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi? Bagaimana pelajaran ini dipandu? Apakah para pelajar diharapkan untuk menjadi Saksi juga? Bagaimanapun, Anda berhak mendapatkan jawaban yang benar. Jadi, jangan dengarkan kabar angin yang berprasangka, atau selentingan, tetapi carilah fakta-fakta. Alkitab mengatakan di Amsal 14:15, ”Orang yang lugu percaya pada setiap perkataan yang ia dengar; orang yang cerdas tahu bahwa bukti diperlukan.”—The New English Bible.


Kiranya Sedarlah! edisi ini membantu Anda memahami Saksi-Saksi Yehuwa dengan lebih sepenuhnya dan akurat. Ya, fakta bahwa Anda sedang membaca majalah ini memperlihatkan bahwa Anda memiliki pikiran yang terbuka dan tidak memihak. Jadi, cobalah lakukan hal ini: Seraya Anda membaca empat artikel berikut dan kotak yang menyertainya, periksalah ayat-ayat yang dikutip dalam Alkitab Anda sendiri. Dengan demikian, Anda berlaku arif dan, sebagaimana Alkitab katakan, ”berbudi luhur”.—Kisah 17:11.



Apa Kata Orang Lain


Prancis “Saksi-Saksi Yehuwa adalah warga negara yang merespek hukum Republik. . . . Mereka bukan ancaman bagi ketertiban umum. Mereka bekerja, membayar pajak, berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi negeri kita dan memberikan sumbangan kepada badan sosial. Perpaduan orang-orang dari segala ras dan asal ini, yang berkumpul bersama dengan damai, sungguh menyenangkan untuk dilihat. . . . Seandainya semua orang adalah Saksi-Saksi Yehuwa, kami polisi akan kehilangan pekerjaan.”—Spokesman for a French police union.

Ukraina “Saksi-Saksi Yehuwa menanamkan dalam diri anak-anak mereka prinsip moral yang luhur. Mereka mengajar anak-anak mereka untuk menghindari perilaku, tindakan dan bahkan sikap yang, [meski] dianggap normal dalam dunia dewasa ini, bisa mencelakai anak-anak mereka dan orang lain. Karena itu, mereka memperingatkan anak-anak mereka bahayanya memakai narkoba, merokok, dan penyalahgunaan alkohol. Mereka mengakui pentingnya kejujuran dan kerja keras. . . . Saksi-Saksi Yehuwa mengajar anak-anak mereka sifat-sifat moral, untuk merespek kalangan berwenang, orang lain dan properti mereka, serta untuk menjadi warga negara yang taat hukum.”—The History of Religion in Ukraine, edited by Professor Petro Yarotskyi.

“Saksi-Saksi Yehuwa mengajar anak-anak mereka sifat-sifat moral . . . serta untuk menjadi warga negara yang taat hukum
A happy family
Italia “Tiga puluh ribu orang di Stadion Olimpiade duduk dengan senyap . . . Tidak ada sampah, tidak ada kegaduhan, tidak ada teriakan. Itulah pemandangan di Stadion Olimpiade kemarin . . . Tidak ada isyarat yang tidak patut, tidak ada rokok, tidak ada satu pun kaleng [minuman]. Hanya Alkitab yang terbuka, orang-orang mencatat, dan anak-anak duduk dengan tenang.”—L’Unità,reporting on a convention of Jehovah’s Witnesses in Rome.

Inggris “Asisten Uskup Cheltenham mengatakan [Gereja Inggris] membutuhkan kelompok umat berbakti yang berkeliling seperti Saksi-Saksi Yehuwa.”—The Gazette, Gloucester Diocese.

Belanda Para tetangga Balai Kerajaan di kota Leeuwarden menyampaikan surat kepada Saksi-Saksi yang bunyinya, ”Kami ingin memuji kalian karena pengaruh kalian yang luar biasa atas citra Noorderweg [Jalan Noorder]. Anggota kalian selalu berpakaian rapi, dan mereka sangat bertata krama. Anak-anak bertingkah laku baik, orang dewasa tidak pernah memarkir mobil sembarangan, mereka tidak membuang sampah di jalan, dan lingkungan Balai Kerajaan selalu bersih dan apik. Kami harap kalian akan terus menjadi tetangga kami untuk waktu yang lama, karena kami sangat senang menjadi tetangga kalian.”

Meksiko Elio Masferrer, dosen dan peneliti di Sekolah Nasional Antropologi dan Sejarah, mengatakan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa membantu orang-orang yang ”menderita krisis keluarga yang parah seperti pemerkosaan, penganiayaan keluarga, alkoholisme, dan kecanduan narkoba”. Ajaran Saksi-Saksi, katanya, ”memberikan martabat kepada orang-orang yang dilanda perasaan tidak berharga” dan memungkinkan mereka ”hidup tanpa problem serius dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah.”—Excélsiornewspaper.

Brasil Sebuah surat kabar melaporkan, ”Organisasi Saksi-Saksi Yehuwa benar-benar mengesankan. Tempat-tempat pertemuan mereka selalu bersih. Segalanya sangat terorganisasi . . . Sewaktu acara mereka usai, lokasinya lebih bersih daripada sebelumnya. Selama khotbah, semuanya benar-benar hening. Tidak ada yang saling mendorong atau berdesakan. Semuanya bertata krama. . . . Ini memang agama yang tertib. Mereka tahu apa artinya beribadat kepada Allah.”—Comércio da Franca.


Saksi-Saksi Yehuwa dengan teguh percaya bahwa sang Pencipta lebih mengetahui daripada siapa pun prinsip-prinsip yang harus dijalani manusia ciptaan-Nya. (Yesaya 48:17, 18) Karena itu, sewaktu tingkah laku mereka menghasilkan pernyataan positif dari orang lain, Saksi-Saksi mengarahkan pujian kepada-Nya. Yesus berkata, ”Biarlah terangmu bersinar di hadapan manusia, agar mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapakmu yang di surga.”—Matius 5:16.
“. . . Orang-orang dari segala ras dan asal ini berkumpul bersama dengan damai . . .”
A convention of Jehovah's Witnesses


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa ada orang yang berbicara menentang Saksi-Saksi Yehuwa?

Banyak orang sekadar mendapat informasi yang keliru. Yang lainnya mungkin tidak suka dengan pekerjaan penginjilan Saksi-Saksi. Namun faktanya, Saksi-Saksi melakukan pekerjaan ini atas dasar kasih kepada sesama, karena mereka tahu bahwa ”setiap orang yang berseru kepada nama Yehuwa akan diselamatkan”.—Roma 10:13.

Apakah Saksi-Saksi Yehuwa itu Protestan, Fundamentalis, atau sekte?

Saksi-Saksi Yehuwa adalah Kristen, tetapi mereka bukan Protestan dan juga bukan Katolik karena mereka tahu bahwa beberapa ajaran agama-agama tersebut tidak berdasarkan Alkitab. Misalnya, Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah—yang adalah personifikasi kasih—menyiksa orang selama-lamanya di neraka yang bernyala-nyala. Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa manusia memiliki jiwa yang tidak berkematian atau bahwa orang Kristen harus terlibat dalam politik.—Yehezkiel 18:4; Yohanes 15:19; 17:14; Roma 6:23.*


“Fundamentalisme adalah gerakan yang luas cakupannya dalam Protestanisme di Amerika Serikat,” kata The World Book Encyclopedia. Beberapa organisasi Fundamentalis ”telah mengambil sikap sosial dan politik atas dasar penerapan ayat-ayat Alkitab secara harfiah”. Definisi itu tidak cocok untuk Saksi-Saksi Yehuwa. Seperti disebutkan, mereka tidak terlibat dalam politik dan tidak memaksakan pandangan mereka terhadap orang lain melalui politik atau sarana lain apa pun. Sebaliknya, mereka berbincang dengan orang-orang, biasanya secara pribadi, menggunakan penalaran dan bukti yang meyakinkan, meniru orang Kristen masa awal.—Kisah 19:8.

Sekte adalah kelompok yang tidak sepaham dalam suatu komunitas agama atau yang memisahkan diri untuk membentuk agama baru. Saksi-Saksi Yehuwa tidak memisahkan diri dari gereja mana pun. Mereka bukan sekte.

DI SINI ADA TOLERAANSI

Two men discussing the Bible
Kota Bejucal de Ocampo di bagian selatan Meksiko cukup unik. ”Mayoritas penduduknya adalah Saksi-Saksi Yehuwa”, lapor surat kabar Excélsior, dan menambahkan, ”Iklim toleransi beragama dan pemerintahan di sini sangat bagus. . . . Penduduknya tidak lagi bermabuk-mabukan dan merokok tetapi menyanyi dan membaca Alkitab. Mereka juga merespek kalangan berwenang.”
  Kendati ada agama-agama lain di kota itu, ”konflik keagamaan atau perdebatan tidak pernah muncul”, kata laporan itu. Juga dikatakan, ”Tidak ada permusuhan, dan keanekaragaman agama tidak mencegah para tetangga untuk saling memberi salam . . . Setiap keluarga bebas memeluk agamanya, dan ini tidak mencegah mereka hidup bersama dengan damai. Tampaknya tidak aneh bagi siapa pun bahwa ada banyak sekali Saksi-Saksi Yehuwa di Bejucal.” Bukan itu saja, anak-anak mereka ’berpakaian dengan bersahaja, berprestasi, dan berperilaku baik di kelas’, komentar seorang guru SMA di sana, yang bukan Saksi..
A congregation of Jehovah's Witnesses

Bagaimana pertemuan ibadat berlangsung?

Pertemuan ibadat mereka, atau disebut perhimpunan, yang terbuka untuk umum, pada dasarnya adalah pelajaran Alkitab, yang kerap mengajak hadirin berpartisipasi. Salah satu perhimpunan mingguan mereka, Sekolah Pelayanan Teokratis, membantu anggota sidang mengembangkan keterampilan mengajar, membaca, dan meriset. Ada juga ceramah Alkitab selama 30 menit tentang topik yang khususnya menarik bagi non-Saksi. Itu biasanya dilanjutkan dengan pelajaran Alkitab menggunakan majalah Menara Pengawal. Perhimpunan dimulai dan diakhiri dengan nyanyian serta doa, dan tidak ada pemungutan dana atau pengedaran kolekte.—2 Korintus 8:12.

Someone making a donation

Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa dibiayai?

Pekerjaan mereka dibiayai oleh sumbangan sukarela. Saksi-Saksi tidak memungut biaya untuk pembaptisan, pernikahan, pemakaman, atau upacara keagamaan lainnya. Mereka juga tidak mewajibkan perpuluhan. Siapa pun yang ingin menyumbang dapat memasukkannya ke dalam kotak sumbangan yang diletakkan di tempat yang tidak mencolok di Balai Kerajaan. Saksi-Saksi Yehuwa memproduksi lektur Alkitab yang mereka gunakan, sehingga menekan biaya, dan Balai Kerajaan serta fasilitas kantor cabang mereka yang bersahaja sebagian besar dibangun oleh sukarelawan.
A couple talking to their doctor

Apakah Saksi-Saksi Yehuwa menerima perawatgan medis?

Ya. Malah, mereka mengupayakan perawatan terbaik untuk mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. Lagi pula, banyak Saksi bekerja di dunia medis sebagai perawat, paramedis, dokter, dan ahli bedah. Namun, Saksi-Saksi Yehuwa menolak transfusi darah. ’Jauhkanlah diri dari darah,’ Alkitab menyatakan. (Kisah 15:28, 29) Sungguh menarik bahwa semakin banyak dokter memandang perawatan medis nondarah sebagai ”standar emas” karena melaluinya banyak risiko kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan produk darah dihindari.


*  Pandangan Alkitab tentang hal ini dan banyak topik penting lainnya bisa ditemukan dalam buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? published by Jehovah’s Witnesses.



Apa yang Dipercayai Saksi-Saksi Yehuwa?

Kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa bukan rahasia, karena lektur mereka mudah diperoleh dalam ratusan bahasa. Berikut ini adalah ringkasan beberapa kepercayaan utama mereka.
Someone reading the Bible
“The Father is greater than I am.”—John 14:28
Jesus Christ
  1. Alkitab Saksi-Saksi percaya bahwa ”segenap Tulisan Kudus diilhamkan Allah.” (2 Timotius 3:16) Jason D. BeDuhn, lektor kepala kajian keagamaan, menulis, ”[Saksi-Saksi Yehuwa membangun] sistem kepercayaan serta kebiasaan mereka berdasarkan Alkitab tanpa mengubah-ubah atau menentukan sebelumnya apa yang dimaksud di dalamnya.” Mereka menyelaraskan kepercayaan mereka dengan Alkitab; mereka tidak menafsirkannya agar cocok dengan keinginan mereka. Pada waktu yang sama, mereka mengakui bahwa tidak semua ayat dalam Alkitab harus dipahami secara harfiah. Tujuh hari penciptaan, misalnya, bersifat simbolis, memaksudkan periode waktu yang lama.—Kejadian 1:312:4.
  2. Pencipta Allah yang benar telah memberi diri-Nya nama pribadi—Yehuwa (atau Yahweh, sebagaimana digunakan dalam terjemahan Katolik Roma Jerusalem Bible dan lebih disukai oleh pakar zaman modern)—untuk membedakan diri-Nya dengan allah-allah palsu.*  (Mazmur 83:18) Bentuk Ibrani nama ilahi muncul sekitar 7.000 kali dalam teks asli Alkitab. Sewaktu menandaskan pentingnya nama itu, Yesus berkata dalam doa Bapak Kami, ”Dikuduskanlah nama-Mu.” (Matius 6:9, Terjemahan Baru) Allah layak menuntut pengabdian yang eksklusif, tidak bercabang. Karena itu, Saksi-Saksi tidak menggunakan ikon atau patung dalam ibadat mereka.—1 Yohanes 5:21.
  3. Yesus Kristus Ia adalah Juru Selamat, ”Putra Allah”, dan ”yang sulung dari antara semua ciptaan”. (Yohanes 1:34; Kolose 1:15; Kisah 5:31) Sebagai makhluk yang diciptakan, ia bukan bagian dari Tritunggal. ”Bapak lebih besar daripada aku,” kata Yesus. (Yohanes 14:28) Yesus telah hidup di surga sebelum datang ke bumi, dan setelah mati sebagai korban dan dibangkitkan, ia kembali ke surga. ”Tidak seorang pun datang kepada Bapak kecuali melalui[nya].”—Yohanes 14:6..
  4. Kerajaan Allah Ini adalah pemerintah surgawi yang nyata dengan seorang Raja—Yesus Kristus—dan 144.000 rekan penguasa, yang ”dibeli dari bumi”. (Penyingkapan [Wahyu] 5:9, 10; 14:1, 3, 4; Daniel 2:44; 7:13, 14) Mereka akan memerintah atas bumi, yang akan dibersihkan dari semua kefasikan dan akan dihuni oleh jutaan manusia yang takut akan Allah.—Amsal 2:21, 22.
  5. Bumi Pengkhotbah 1:4 menyatakan, ”Bumi tetap selama-lamanya.” (Kitab Suci Komunitas Kristiani) Setelah kebinasaan orang fasik, bumi akan dibuat menjadi firdaus dan didiami selama-lamanya oleh manusia yang adil-benar. (Mazmur 37:10, 11, 29) Dengan demikian, kata-kata Yesus dalam doa ”jadilah kehendak-Mu di bumi” akan tergenap.—Matius 6:10, Terjemahan Baru.
  6. Nubuat Alkitab ”Allah . . . tidak dapat berdusta.” (Titus 1:2) Maka, apa yang Ia nubuatkan selalu menjadi kenyataan, termasuk nubuat Alkitab tentang akhir dunia ini. (Yesaya 55:11; Matius 24:3-14) Siapa yang akan selamat dari kebinasaan yang akan datang? ”Ia yang melakukan kehendak Allah,” kata 1 Yohanes 2:17.
  7. Kalangan berwenang sekuler ”Bayarlah kembali perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar, tetapi perkara-perkara Allah kepada Allah,” kata Yesus. (Markus 12:17) Jadi, Saksi-Saksi Yehuwa menaati hukum negara apabila itu tidak bertentangan dengan hukum Allah.—Kisah 5:29; Roma 13:1-3.
  8. Pengabaran Yesus menubuatkan, ”Kabar baik kerajaan ini” akan diumumkan ke seluruh bumi sebelum akhir dunia ini. (Matius 24:14) Saksi-Saksi Yehuwa merasa bangga untuk ikut melakukan pekerjaan yang menyelamatkan kehidupan itu. Tentu saja, entah orang-orang mendengarkan atau tidak, itu pilihan mereka. Alkitab mengatakan, ”Siapa pun yang ingin, biarlah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma.”—Penyingkapan 22:17.
  9. Baptisan Saksi-Saksi Yehuwa membaptis hanya orang-orang yang, atas dasar pelajaran Alkitab yang saksama, ingin melayani Allah sebagai salah seorang Saksi-Saksi-Nya. (Ibrani 12:1) Mereka melambangkan pembaktian pribadi kepada Allah melalui pembenaman dalam air.—Matius 3:13, 16; 28:19.
  10. Pembedaan golongan pemimpin dan kaum awam ”Kamu semua adalah saudara,” kata Yesus kepada para pengikutnya. (Matius 23:8) Orang Kristen masa awal, termasuk para penulis Alkitab, tidak mempunyai golongan pemimpin agama. Pola Alkitab ini adalah salah satu hal yang Saksi-Saksi Yehuwa ikuti.

*  Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengarang-ngarang nama ”Yehuwa”. Nama Allah telah dialihbahasakan menjadi ”Yehuwa” dalam sejumlah bahasa non-Alkitab, termasuk bahasa Jawa. Sayangnya, beberapa penerjemah Alkitab zaman modern telah mengganti nama ilahi itu dengan gelar, seperti ”Allah” dan ”Tuhan”, dengan demikian sangat tidak merespek Pengarang Alkitab.
“Kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.”—Matius 24:14
Two women discussing the Bible
Appeared in Awake!  August 2010
Parafrase bahasa Indonesia  © 2011 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

Jumat, 17 Juni 2011

Apa Sebenarnya Armagedon?


‘Saya berjanji bahwa ini akan menjadi perang yang terakhir—perang yang mengakhiri segala perang.’—WOODROW WILSON, U.S. PRESIDENT (1913-21).
DEMIKIANLAH harapan yang sangat optimistis dari seorang pemimpin dunia pada akhir Perang Dunia I, sekitar 90 tahun yang lampau. Konflik global itu begitu mengerikan sehingga pihak-pihak yang menang tidak saja ingin tetapi juga harus yakin bahwa besarnya pengorbanan mereka akan membuahkan hasil yang langgeng. Namun, peperangan manusia hampir tidak pernah mengatasi problem, apalagi menyingkirkan akar penyebab dari peperangan itu sendiri.


Sekitar 20 tahun setelah Presiden Wilson membuat janji yang terburu-buru itu, pecahlah perang dunia kedua. Perang ini menelan lebih banyak korban dan menimbulkan lebih banyak kehancuran daripada perang sebelumnya. Kemajuan teknologi selama dua dasawarsa telah membuat umat manusia semakin ahli dalam melakukan pembunuhan massal. Seraya perang dunia kedua berakhir, para pemimpin dunia sadar bahwa perang bisa terjadi kapan saja.


Pada tahun 1945, Jenderal Douglas MacArthur dari AS mengumumkan, ”Kesempatan terakhir untuk mengakhiri perang sudah lewat. Jika kita tidak menciptakan sistem yang jauh lebih baik dan lebih adil, Armagedon sudah ada di depan kita.”


Destruction from an atom bombJenderal MacArthur mengetahui akibat yang ditimbulkan dua bom atom atas kota Nagasaki dan Hiroshima menjelang berakhirnya perang dunia kedua. Kehancuran yang mengerikan atas kedua kota di Jepang itu telah membuatnya memberi makna yang baru pada kata ”Armagedon”—malapetaka nuklir yang akan sama sekali mengakhiri peradaban dari planet kita.

Perasaan khawatir akan kemungkinan terjadinya malapetaka nuklir terus menghantui umat manusia. Pada tahun 1960-an, negara-negara adikuasa telah menciptakan sebuah strategi yang disebut ”mutually assured destruction” atau kebinasaan bersama yang pasti. Tujuan mereka adalah untuk memiliki cukup peluru kendali atau sistem peluncuran guna menjamin penghancuran 25 persen penduduk sipil musuh dan 50 persen kapasitas industrinya—tidak soal pihak mana yang memulai konflik. Hanya sedikit yang merasa cukup aman dengan adanya strategi ini untuk menjaga perdamaian dunia.


Kini, senjata nuklir terus menjamur dan perang-perang regional terus menelan korban yang tidak terhitung banyaknya. Kemungkinan terjadinya malapetaka nuklir masih mengancam umat manusia. Meskipun orang-orang rindu melihat akhir peperangan, sedikit yang percaya bahwa perang atau strategi apa pun bisa berhasil mencapai tujuan ini.


Meskipun demikian, dalam Alkitab memang digambarkan adanya suatu perang unik yang akan mengakhiri segala perang. Perang ini disebut ”Armagedon”—istilah yang justru sering dikaitkan dengan bencana nuklir. Bagaimana Armagedon benar-benar akan mengakhiri perang? Artikel berikut akan menjawab pertanyaan ini.

Armageddon—Perang Allah yang Mengakhiri Segala Perang


“Bagi mereka, membunuh sesama manusia adalah perbuatan biadab; karena itu, di mata mereka perang adalah sesuatu yang tidak terbayangkan dan menjijikkan, yang tidak ada dalam kamus mereka.”—GAMBARAN TENTANG ORANG INUIT DI GREENLAND MENURUT FRIDTJOF NANSEN, PENJELAJAH NORWEGIA, PADA TAHUN 1888.
SIAPA yang tidak senang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganggap perang itu ”tidak terbayangkan dan menjijikkan”? Siapa yang tidak merindukan suatu dunia yang bahkan tidak mempunyai kata untuk perang karena peperangan itu sendiri tidak dikenal? Dunia semacam itu mungkin hanyalah impian, apalagi jika kita mengandalkan manusia untuk mewujudkannya.



Namun, dalam nubuat Yesaya, Allah sendiri berjanji akan mewujudkan suatu dunia seperti itu, ”Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan mengangkat pedang melawan bangsa, mereka juga tidak akan belajar perang lagi.”—Yesaya 2:4.


Jelaslah, dunia yang kini memiliki 20 juta prajurit yang aktif bertugas dan sekitar 20 perang yang sedang berkecamuk harus membuat perubahan yang drastis agar janji ini dapat diwujudkan. Maka tidak heran, Allah yang mahakuasa, Yehuwa, akan turun tangan dalam urusan manusia. Intervensi Yehuwa ini akan mencapai puncaknya pada perang yang Alkitab sebut Armagedon.—Penyingkapan (Wahyu) 16:14, 16.


Meskipun kata ”Armagedon” pada tahun-tahun belakangan ini digunakan untuk memaksudkan malapetaka nuklir sedunia, sebuah kamus menguraikan arti utama kata ini sebagai berikut: ”Tempat terjadinya konflik besar dan terakhir antara kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan.” Apakah kebaikan akan mengalahkan kejahatan, atau apakah pertempuran demikian hanya suatu fiksi?


Kita dapat berbesar hati dengan memperhatikan bahwa Alkitab berulang kali mengatakan tentang berakhirnya kefasikan. ”Orang-orang berdosa akan dilenyapkan dari bumi,” demikian nubuat sang pemazmur. ”Mengenai orang-orang fasik, mereka tidak akan ada lagi.” (Mazmur 104:35) ”Orang yang lurus hatilah yang akan berdiam di bumi, dan orang yang tidak bercelalah yang akan disisakan di situ,” kata buku Amsal. ”Sedangkan orang fasik, mereka akan dimusnahkan dari bumi; dan mengenai pengkhianat, mereka akan direnggut dari situ.”—Amsal 2:21, 22.


Alkitab juga menunjukkan dengan jelas bahwa orang fasik tidak akan menyerahkan kuasanya dengan baik-baik; karena itu perlu tindakan tegas dari Allah untuk menyingkirkan semua yang jahat, termasuk peperangan yang tercela. (Mazmur 2:2) Nama yang diberikan Alkitab untuk konflik yang unik ini Armagedon, sangatlah penting.

Pertempuran Masa Lampau di Dekat Megido

Kata ”Armagedon” berarti ”Gunung Megido”. Kota kuno Megido, beserta Dataran Yizreel yang ada di sekitarnya, memiliki sejarah panjang sebagai lokasi pertempuran-pertempuran yang menentukan. ”Sepanjang sejarah, Megido dan Lembah Yizreel telah menjadi ajang pertempuran yang menentukan jalannya peradaban,” tulis sejarawan Eric H. Cline dalam bukunya The Battles of Armageddon.


Seperti yang disebutkan oleh Cline, pertempuran yang terjadi dekat Megido sering kali terbukti menentukan. Pasukan Mongol, yang menaklukkan sebagian besar Asia pada abad ke-13, menderita kekalahan mereka yang pertama di lembah ini. Tidak jauh dari Megido, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Edmund Allenby mengalahkan orang Turki pada waktu perang dunia pertama. Seorang sejarawan militer melukiskan kemenangan Allenby sebagai ”salah satu operasi militer yang paling cepat dipertarungkan dan pertempuran yang paling telak sepanjang sejarah”.


Alkitab juga mencatat beberapa pertempuran yang menentukan di dekat Megido. Di sana, Hakim Barak menaklukkan pasukan Sisera dari Kanaan. (Hakim 4:14-16; 5:19-21) Gideon, dengan pasukan kecil yang terdiri dari 300 orang, mengalahkan bala tentara Midian yang besar di sekitar lokasi itu. (Hakim 7:19-22) Tidak jauh dari situ, Raja Saul dan putranya Yonatan tewas di Gunung Gilboa sewaktu pasukan Filistin mengalahkan pasukan Israel.—1 Samuel 31:1-7.
Gideon dan orang-orangnya memenangkan pertempuran yang menentukan di dekat Megido
1. Megiddo; 2. Gideon battling at Megiddo
MEGIDDO
Karena letak geografisnya yang strategis, Megido dan lembah di sekitarnya telah menjadi saksi bisu dari puluhan pertempuran dalam kurun waktu 4.000 tahun terakhir. Seorang sejarawan menghitung sedikitnya telah terjadi 34 pertempuran!


Tak diragukan lagi, sejarah Megido dan letaknya yang strategis berkaitan dengan penggunaan kata ”Armagedon” secara kiasan. Meskipun kata itu hanya disebutkan satu kali dalam Alkitab, pemunculannya dalam buku Penyingkapan dengan jelas memperlihatkan bahwa Armagedon akan mempengaruhi kehidupan setiap orang di bumi ini.


Armagedon Menurut Alkitab

Meskipun di masa lampau Megido telah menjadi ajang dari banyak pertempuran yang menentukan, tidak satu pun di antaranya yang berhasil menyingkirkan kefasikan. Tidak ada yang benar-benar merupakan pertarungan antara kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan, dalam arti mutlak. Logisnya, bentuk konflik seperti ini harus berasal dari Allah. Seperti yang pernah Yesus katakan, ”tidak seorang pun yang baik, kecuali satu, yakni Allah”. (Lukas 18:19) Selain itu, Alkitab secara spesifik menyebut Armagedon sebagai perang Allah.


Dalam Alkitab, buku Penyingkapan mengatakan bahwa ”raja-raja seluruh bumi yang berpenduduk” akan dikumpulkan ”menuju perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa”. (Penyingkapan 16:14) Kemudian, catatan nubuat itu menambahkan, ”Lalu mereka mengumpulkan mereka ke tempat yang dalam bahasa Ibrani disebut Har–Magedon,” atau Armagedon. (Penyingkapan 16:16) Kemudian, Penyingkapan menjelaskan bahwa ”raja-raja di bumi dan bala tentara mereka” akan ”berkumpul untuk berperang melawan pribadi yang duduk di atas kuda itu dan bala tentaranya”. (Penyingkapan 19:19) Penunggang kuda itu tidak lain adalah Yesus Kristus.—1 Timotius 6:14, 15; Penyingkapan 19:11, 12, 16.


Apa yang dapat kita simpulkan dari ayat-ayat di atas? Bahwa Armagedon adalah perang antara Allah dan pasukan manusia yang tidak taat. Mengapa Yehuwa dan putra-Nya, Yesus Kristus, akan melakukan perang seperti itu? Salah satu alasannya, Armagedon akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”. (Penyingkapan 11:18) Selain itu, perang tersebut akan menghasilkan dunia yang damai, suatu ”bumi baru yang kita nantikan sesuai dengan janji [Allah], tempat ”keadilbenaran akan tinggal”.—2 Petrus 3:13.
Setelah Armagedon usai, orang di mana-mana akan memandang perang sebagai sesuatu yang tidak terbayangkan dan menjijikkan
People surviving Armageddon


Mengapa Armagedon Diperlukan?

Apakah sulit bagi Anda untuk membayangkan bahwa Yehuwa, ”Allah kasih”, akan menugasi Putra-Nya, ”Pangeran Perdamaian”, untuk berperang? (2 Korintus 13:11; Yesaya 9:6) Jika kita memahami motif mereka pastilah masalahnya akan jelas. Buku Mazmur menggambarkan Yesus sebagai pejuang. Mengapa dia berperang? Kristus bertempur, jelas pemazmur, ”demi kebenaran dan kerendahan hati dan keadilbenaran”. Ia berperang karena ia mengasihi keadilbenaran dan membenci kefasikan.—Mazmur 45:4, 7.


Demikian pula, Alkitab melukiskan bagaimana tanggapan Yehuwa terhadap ketidakadilan yang Ia saksikan di dunia dewasa ini. ”TUHAN telah melihatnya, dan Ia tidak senang bahwa tak ada lagi keadilan,” tulis nabi Yesaya. ”Ia memakai keadilan dan keselamatan sebagai baju besi dan topi baja. Ia bertekad untuk memulihkan keadaan dan membalas ketidakadilan.”—Yesaya 59:15, 17, Bahasa Indonesia Masa Kini.


Selama orang fasik berkuasa, orang adil-benar tidak akan menikmati kedamaian dan keamanan. (Amsal 29:2; Pengkhotbah 8:9) Secara realistis, mustahil kita dapat memisahkan kebejatan dan kefasikan dari orang-orang yang mempraktekkannya. Jadi, demi terciptanya perdamaian dan keadilan yang langgeng harus ada harga yang dibayar—disingkirkannya semua orang fasik. ”Orang fasik adalah tebusan bagi orang adil-benar,” tulis Salomo.—Amsal 21:18.


Karena Allah-lah Hakimnya, kita dapat yakin bahwa dalam setiap kasus, penghakiman terhadap orang fasik akan dijalankan dengan adil-benar. ”Apakah Hakim segenap bumi tidak akan melakukan apa yang benar?” tanya Abraham. Akhirnya Abraham mengetahui jawabannya, bahwa Yehuwa selalu benar! (Kejadian 18:25) Selanjutnya, Alkitab meyakinkan kita bahwa Yehuwa tidak senang membinasakan orang fasik; Ia melakukannya hanya sebagai pilihan terakhir.—Yehezkiel 18:32; 2 Petrus 3:9.


Menanggapi Armagedon dengan Serius

Di pihak manakah Anda akan berada dalam konflik yang menentukan ini? Kebanyakan dari kita secara otomatis beranggapan bahwa kita tergabung dengan kuasa kebaikan. Tetapi, bagaimana kita dapat yakin? ”Carilah keadilbenaran, carilah kelembutan hati,” desak nabi Zefanya. (Zefanya 2:3) Menurut rasul Paulus, Allah menghendaki agar ”segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”.—1 Timotius 2:4.

Mempelajari kebenaran tentang Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya adalah langkah pertama menuju keselamatan
A man reading the Bible
Mempelajari kebenaran tentang Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya untuk menyingkirkan kefasikan dari atas bumi ini adalah langkah pertama menuju keselamatan. Mempraktekkan keadilbenaran adalah langkah kedua, yang menghasilkan perkenan dan perlindungan Allah bagi kita.


Jika kita mengambil langkah-langkah yang penting ini, sebenarnya kita tidak perlu takut menghadapi Armagedon, karena itu adalah perang yang akan benar-benar mengakhiri peperangan manusia. Setelah perang itu usai, orang di mana-mana akan memandang perang sebagai sesuatu yang tidak terbayangkan dan menjijikkan. ”Mereka tidak akan lagi belajar perang”.—Yesaya 2:4, Terjemahan Baru.


Appeared in The Watchtower  April 1, 2008


Rabu, 15 Juni 2011

Hari-Hari Terakhir—Apakah Itu?

APA yang dimaksud dengan ungkapan Alkitab ”hari-hari terakhir”? Bagaimana kita secara perorangan terimbas? Adakah harapan untuk masa depan yang lebih cerah?

Are We Living in the Last Days?

People in a restaurant viewing a disaster on TV

HARI-HARI TREAKHIR
DARI APA?

PADA kaca jendela sebuah toko terpampang tulisan: ”Hari-Hari Terakhir”. Pesannya cukup jelas. Itu bisa berarti obral akan segera berakhir atau toko itu akan ditutup. Tetapi, bagaimana jika seseorang mengatakan, ”Kita hidup pada hari-hari terakhir”? Apa maksudnya?


Istilah ”hari-hari terakhir” dan ”zaman akhir” sudah lama digunakan. (2 Timotius 3:1; Daniel 12:4) Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, nabi Daniel diberi penglihatan tentang kuasa-kuasa dunia dan konflik di antara mereka yang akan terus berlangsung sampai ”zaman akhir”. Ia diberi tahu bahwa makna penglihatan tersebut akan menjadi jelas pada waktu itu. (Daniel 8:17, 19; 11:35, 40; 12:9) Daniel juga mencatat, ”Pada zaman raja-raja itu, Allah yang berkuasa atas surga akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan pernah binasa. Dan kerajaan itu tidak akan beralih kepada bangsa lain. Kerajaan itu akan meremukkan dan mengakhiri semua kerajaan ini, dan akan tetap berdiri sampai waktu yang tidak tertentu.”—Daniel 2:44.


Yesus Kristus berbicara tentang ”akhir itu” ketika ia menjawab pertanyaan mengenai ”tanda kehadiran[-nya] dan tanda penutup sistem ini”. (Matius 24:3-42) Tampaknya, Daniel maupun Yesus berbicara tentang suatu final—perubahan dramatis yang akan mempengaruhi orang-orang yang hidup dan yang pernah hidup di bumi ini. Daniel menulis tentang akhir semua pemerintahan di bumi. Yesus berbicara mengenai ”penutup sistem ini”.


Haruskah Anda memikirkan maknanya? Tentu saja. Seluruh umat manusia harus tahu maknanya, karena semuanya terimbas. Namun, banyak orang memandang enteng hal ini. Alkitab menubuatkan, ”Pada hari-hari terakhir akan datang pengejek-pengejek dengan ejekan mereka; mereka bertindak menurut keinginan mereka sendiri dan mengatakan, ’Mana kehadirannya yang dijanjikan itu? Dari saat bapak-bapak leluhur kami tertidur dalam kematian, segala sesuatu terus berlangsung tepat seperti sejak awal penciptaan.’” (2 Petrus 3:3, 4) Ya, dewasa ini ada yang merasa bahwa sejarah hanya berulang dan bahwa kehidupan seperti yang kita ketahui akan tetap begini selamanya.


Adakah keterangan bahwa kita memang hidup pada hari-hari terakhir seperti yang disebutkan dalam Alkitab? Mari kita lihat.




HAR-HARI TERAKHIR
KAPAN?

“DALAM kurang lebih satu miliar tahun, kita mengantisipasi Bumi menjadi gurun yang gersang, tandus, kering kerontang. Sulit untuk membayangkan bagaimana bentuk kehidupan bersel banyak bisa bertahan hidup,” kata majalah Sky & Telescope baru-baru ini. Mengapa? ”Sinar Matahari yang kian terik akan mendidihkan lautan dan memanggang benua,” kata majalah Astronomy, yang menambahkan, ”Skenario yang amat mengerikan ini bukan sekadar fakta yang menggelisahkan—ini adalah nasib kita yang tak terelakkan.”


Akan tetapi, Alkitab menyatakan, ”[Allah] telah menjadikan bumi di tempatnya yang tetap; yang tidak akan digoyahkan sampai waktu yang tidak tertentu, atau selama-lamanya.” (Mazmur 104:5) Pastilah, sang Pencipta bumi juga bisa menjaga keberlangsungan bumi. Malah, Ia ”membentuknya untuk didiami”. (Yesaya 45:18) Tetapi, bukan oleh ras manusia yang fasik dan sekarat. Allah menetapkan waktu untuk memulihkan pemerintahan-Nya melalui Kerajaan yang disebutkan di Daniel 2:44.

Yesus memberitakan tentang Kerajaan Allah. Ia berbicara mengenai waktu untuk menghakimi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa. Ia memperingatkan tentang kesengsaraan yang bakal lebih hebat daripada kesengsaraan mana pun yang pernah terjadi. Dan, ia memberikan tanda majemuk untuk menunjukkan kapan akhir dunia yang kita tahu sudah dekat.—Matius 9:35; Markus 13:19; Lukas 21:7-11; Yohanes 12:31
.


Sir Isaac Newton
Sir Isaac Newton
Bahwa orang sepenting Yesus memberitahukan hal-hal demikian telah membuat banyak orang bertanya-tanya. Kapan berbagai peristiwa tersebut akan terjadi? Dengan mempelajari nubuat dan kronologi Alkitab, ada yang telah berupaya untuk menentukan kapan persisnya akhir itu. Salah seorang yang meriset pokok tersebut ialah matematikawan abad ke-17 Sir Isaac Newton, penemu hukum gravitasi universal dan kalkulus.
Yesus berkata kepada murid-muridnya, ”Bukan bagianmu untuk memperoleh pengetahuan tentang masa atau musim yang telah Bapak tempatkan dalam kewenangannya.” (Kisah 1:7) Dan, sewaktu memberikan ”tanda kehadiran [-nya] dan tanda penutup sistem ini”, Yesus berkomentar, ”Sehubungan dengan hari dan jamnya tidak ada yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, Putra pun tidak, kecuali Bapak.” (Matius 24:3, 36) Kemudian, setelah membandingkan pembinasaan dunia umat manusia yang fasik pada zaman Nuh dengan pembinasaan yang akan terjadi selama ”kehadiran Putra manusia”, Yesus menyatakan, ”Tetaplah berjaga-jaga sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuanmu akan datang.”—Matius 24:39, 42.

 Yesus mengatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui ”hari dan jamnya”
Jadi, meski waktu persisnya akhir ”sistem ini” tidak disingkapkan kepada kita, ”tanda” yang Yesus berikan akan memungkinkan kita tahu kapan kita berada dalam periode yang disebut ”hari-hari terakhir”. (2 Timotius 3:1) Itu akan menjadi waktu untuk ’tetap sadar’ agar kita ”berhasil luput dari semua hal ini yang ditentukan untuk terjadi”.—Lukas 21:36.


Sebelum memberikan tanda yang aktual itu, Yesus memperingatkan, ”Hati-hatilah agar kamu tidak disesatkan; karena banyak orang akan datang atas dasar namaku, dengan mengatakan, ’Akulah dia’, dan, ’Waktu yang ditentukan sudah dekat.’ Janganlah mengikuti mereka. Selanjutnya, apabila kamu mendengar tentang peperangan dan kekacauan, jangan takut. Karena hal-hal ini harus terjadi dahulu, tetapi akhir itu tidak segera terjadi.”—Lukas 21:8, 9


Apa Tanda Itu?

Sewaktu memberi tahu apa yang akan mencirikan hari-hari terakhir, Yesus selanjutnya berkata, ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan; dan akan ada gempa bumi yang hebat, dan di berbagai tempat akan ada sampar dan kekurangan makanan; dan akan ada pemandangan yang menakutkan dan tanda-tanda yang hebat dari langit.” (Lukas 21:10, 11) Yesus juga mengatakan, ”Kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.”(Matius 24:14) Berbagai peristiwa yang Yesus sebutkan—perang, gempa bumi, sampar, kekurangan makanan—bukan hal baru. Itu sudah terjadi sejak awal sejarah manusia. Perbedaannya, semuanya itu terjadi pada periode yang sama.

Tanda yang Yesus berikan telah terlihat sejak 1914
Pikirkanlah, ’Kapan semua corak yang disebutkan dalam Injil terjadi pada era yang sama?’ Sejak tahun 1914, manusia telah menyaksikan perang-perang dunia yang menghancurkan; gempa bumi besar dengan berbagai akibatnya yang tragis, seperti tsunami; penyakit memautkan yang mewabah seperti malaria, flu, dan AIDS; jutaan orang kelaparan dan sekarat karena kekurangan makanan; perasaan takut yang melanda orang-orang di seluruh dunia karena berbagai ancaman dari terorisme serta senjata penghancur massal; dan pemberitaan kabar baik Kerajaan surgawi Allah di seluruh dunia oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Peristiwa-peristiwa ini telah terjadi persis seperti Yesus nubuatkan.


Ingatlah juga apa yang rasul Paulus tulis, ”Ketahuilah ini, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa kritis yang sulit dihadapi. Sebab orang-orang akan menjadi pencinta diri sendiri, pencinta uang, congkak, angkuh, penghujah, tidak taat kepada orang-tua, tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak suka bersepakat, pemfitnah, tidak mempunyai pengendalian diri, garang, tidak mengasihi kebaikan, pengkhianat, keras kepala, besar kepala karena sombong, mencintai kesenangan sebaliknya daripada mengasihi Allah, berpengabdian yang saleh hanya secara lahiriah tetapi mereka tidak hidup sesuai dengan kuasanya.” (2 Timotius 3:1-5) Ya, ”masa kritis” yang dicirikan oleh merajalelanya pelanggaran hukum, ketidakpercayaan kepada Allah, kekejaman, dan sikap garang yang mementingkan diri akan terlihat di seluruh bumi.*

Tetapi, mungkinkah ”hari-hari terakhir” yang mendahului akhir itu masih akan terjadi di masa mendatang? Adakah keterangan lain yang menunjukkan kapan hari-hari itu akan mulai?


Kapan "Zaman Akhir" Mulai?

Setelah menerima gambaran pendahuluan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi jauh di masa depan, nabi Daniel diberi tahu, ”Pada waktu itu [”zaman akhir” yang disebutkan di Daniel 11:40], Mikhael [Yesus Kristus] akan bangkit berdiri, pangeran besar yang sedang berdiri demi kepentingan putra-putra bangsamu.” (Daniel 12:1) Apa yang akan Mikhael lakukan?


Buku Penyingkapan (Wahyu) berbicara tentang waktu manakala Mikhael akan aktif sebagai Raja. Buku itu menyatakan, ”Pecahlah perang di surga: Mikhael beserta malaikat-malaikatnya bertempur melawan naga itu, dan naga itu beserta malaikat-malaikatnya bertempur tetapi tidak menang, dan tidak ada lagi tempat bagi mereka di surga. Maka dicampakkanlah naga besar itu, ular yang semula, yang disebut Iblis dan Setan, yang sedang menyesatkan seluruh bumi yang berpenduduk; ia dicampakkan ke bumi, dan malaikat-malaikatnya dicampakkan bersamanya. Karena itu, bergembiralah, hai, surga, dan kamu yang berdiam di dalamnya! Celaka bagi bumi dan bagi laut, sebab si Iblis telah turun kepadamu dengan kemarahan yang besar, karena ia tahu bahwa waktunya tinggal sedikit.”—Penyingkapan 12:7-9, 12.


Kronologi Alkitab menunjukkan bahwa perang ini, yang membersihkan surga dari Setan dan hantu-hantunya, akan mengakibatkan celaka yang hebat bagi bumi karena Iblis marah lantaran tahu bahwa waktunya yang tersisa untuk menguasai bumi tinggal sedikit. Ia akan semakin marah selama hari-hari terakhir hingga ia kalah telak pada perang Armagedon.—Penyingkapan 16:14, 16; 19:11, 15; 20:1-3.


Setelah menyebutkan hasil perang di surga tersebut, rasul Yohanes menyatakan, ”Aku mendengar suatu suara yang keras di surga mengatakan, ’Sekarang keselamatan dan kuasa dan kerajaan Allah kita dan wewenang Kristusnya telah menjadi kenyataan karena penuduh saudara-saudara kita, yang menuduh mereka siang dan malam di hadapan Allah kita, telah dicampakkan!’” (Penyingkapan 12:10) Apakah Anda memperhatikan bahwa ayat ini mengumumkan berdirinya Kerajaan di bawah Kristus? Ya, Kerajaan surgawi tersebut didirikan pada tahun 1914.# Akan tetapi, sebagaimana Mazmur 110:2 tunjukkan, Yesus akan memerintah ”di antara musuh-musuh[-nya]” hingga saat manakala pemerintahan Kerajaan akan menjalankan kekuasaan atas bumi seperti yang sudah terjadi di surga.—Matius 6:10.


Menarik sekali bahwa malaikat yang memberi tahu nabi Daniel tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang juga menyatakan, ”Engkau, hai, Daniel, rahasiakanlah perkataan ini dan meteraikanlah buku ini, sampai zaman akhir. Banyak orang akan menjelajah dan pengetahuan yang benar akan berlimpah.” (Daniel 12:4) Hal ini menyediakan keterangan tambahan bahwa kita sekarang berada pada ”zaman akhir”. Pengetahuan tentang makna nubuat-nubuat ini telah menjadi jelas dan kini sedang diumumkan di seluruh dunia.%


Kapan Hari-Hari Terakhir akan Berakhir?

Berapa lama persisnya hari-hari terakhir itu tidak disebutkan dalam Alkitab. Tetapi, pada hari-hari terakhir, situasi di bumi bakal semakin buruk seraya waktu yang tersisa bagi Setan semakin singkat. Rasul Paulus memperingatkan sebelumnya bahwa ”orang fasik dan penipu akan menjadi lebih buruk, menyesatkan dan disesatkan”. (2 Timotius 3:13) Dan, ketika berbicara tentang hal-hal yang masih akan datang, Yesus menyatakan, ”Hari-hari itu akan merupakan hari-hari kesengsaraan seperti yang belum pernah terjadi sejak awal ciptaan yang Allah ciptakan sampai waktu itu, dan tidak akan terjadi lagi. Sebenarnya, jika Yehuwa tidak mempersingkat hari-hari itu, tidak ada orang yang akan diselamatkan. Tetapi, oleh karena orang-orang pilihan yang telah dipilihnya, ia telah mempersingkat hari-hari itu.”—Markus 13:19, 20.


Beberapa peristiwa yang masih akan datang adalah ”kesengsaraan besar”, termasuk perang Armagedon, dan dibatasinya Setan serta hantu-hantunya agar tidak dapat mempengaruhi bumi. (Matius 24:21) ”Allah yang tidak dapat berdusta” telah meyakinkan kita bahwa peristiwa-peristiwa ini akan terjadi. (Titus 1:2) Armagedon dan dicampakkannya Setan ke jurang yang tak terduga dalamnya akan merupakan hasil dari campur tangan ilahi.
Rasul Paulus diilhami untuk memberi tahu kita apa persisnya yang akan mendahului pembinasaan mendatang di tangan Allah. Mengenai ”masa dan musim”, ia menulis, ”Hari Yehuwa akan datang persis seperti pencuri pada waktu malam. Apabila mereka sedang mengatakan, ’Perdamaian dan keamanan!’ maka tiba-tiba kebinasaan menimpa mereka dalam sekejap, sama seperti sengatan penderitaan menimpa seorang wanita yang sedang hamil; dan mereka pasti tidak akan luput.” (1 Tesalonika 5:1-3) Apa persisnya yang menyebabkan seruan palsu ”perdamaian dan keamanan” tidak dinyatakan, dan hanya waktu yang akan menyingkapkan; tetapi, hal itu tidak mencegah datangnya hari penghakiman Yehuwa.^

Jika kita yakin akan perwujudan berbagai nubuat tersebut, pemahaman tentang fakta-fakta ini hendaknya menggerakkan kita untuk bertindak. Dengan cara bagaimana? Petrus menjawab, ”Mengingat semua perkara ini akan dihancurkan secara demikian, sepatutnyalah kamu menjadi orang-orang yang bertingkah laku kudus dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengabdian yang saleh, menantikan dan terus menaruh kehadiran hari Yehuwa dalam pikiran!” ( 2 Petrus 3:11, 12) Namun, Anda mungkin bertanya-tanya, ’Apa manfaatnya hal itu bagi saya?’ Artikel berikut akan menjawab pertanyaan tersebut.


*  Untuk keterangan tambahan mengenai ”hari-hari terakhir”, lihat
 Awake! of April 2007, pages 8-10, as well as The Watchtower of September 15, 2006, pages 4-7, and of October 1, 2005, pages 4-7, published by Jehovah’s Witnesses.
#  Untuk perincian mengenai kronologi Alkitab, lihat halaman 215-18 buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
%  Lihat buku Perhatikanlah Nubuat Daniel! dan Buku Tahunan Saksi-Saksi Yehuwa 2008, halaman 31-9, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
^  Lihat buku Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat! (cetakan 2006), halaman 250-1, paragraf 13 dan 14.
Appeared in Awake!  April 2008



Hari-Hari Terakhir—Lalu Apa?

People in a restaurant viewing a disaster on TV


THE LAST DAYS
THEN WHAT?

ADA orang yang merasa ngeri sewaktu memikirkan ”hari-hari terakhir”. ( 2 Timotius 3:1) Yang mereka bayangkan hanyalah suatu masa yang kritis. Lalu, mengapa begitu banyak orang selama berabad-abad menanti-nantikannya? Karena hari-hari terakhir itu juga menunjukkan bahwa masa yang lebih baik akan tiba.


Sir Isaac Newton, misalnya, yakin bahwa zaman akhir akan menghasilkan era baru kedamaian dan kemakmuran di seluruh dunia di bawah Pemerintahan Milenium Kerajaan Allah. Ia menyatakan bahwa nubuat Mikha 4:3, juga Yesaya 2:4, akan digenapi pada waktu itu, ”Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Mereka tidak akan mengangkat pedang, bangsa melawan bangsa, mereka juga tidak akan belajar perang lagi.”


Sewaktu Yesus berbicara mengenai zaman akhir, ia mendesak para pengikutnya untuk memiliki sudut pandang yang positif. Setelah memberi tahu tentang adanya kesukaran, kekhawatiran, dan ketakutan selama kesengsaraan besar, ia berkata, ”Apabila hal-hal ini mulai terjadi, tegakkanlah dirimu dan angkatlah kepalamu, karena pembebasanmu sudah dekat.” (Lukas 21:28) Pembebasan dari apa?


Apa yang Allah Janjikan

Perang, pertikaian sipil, kejahatan, kekerasan, dan kelaparan adalah beberapa di antara banyak hal yang menyusahkan manusia dewasa ini dan menyebabkan jutaan orang hidup dalam ketakutan serta kegentaran. Apakah Anda pun terimbas oleh hal-hal tersebut? Nah, perhatikan apa yang Allah janjikan:
    A married couple visualizing Paradise on earth
  • Hanya sedikit waktu lagi, orang fasik tidak akan ada lagi . . . Orang-orang yang lembut hati akan memiliki bumi, dan mereka akan benar-benar mendapatkan kesenangan yang besar atas limpahnya kedamaian.”—Mazmur 37:10, 11.
  • Umatku akan menetap di tempat tinggal yang penuh damai, di tempat kediaman yang tenteram, di tempat istirahat yang tanpa gangguan.”—Yesaya 32:18.
  • [Yehuwa] menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi. Busur ia patahkan dan tombak ia potong; pedati-pedati ia bakar dalam api.”—Mazmur 46:9.
  • Mereka akan duduk, masing-masing di bawah tanaman anggurnya dan di bawah pohon aranya, dan tidak akan ada orang yang membuat mereka gemetar.”—Mikha 4:4.
  • Akan ada banyak biji-bijian di bumi; di puncak pegunungan akan ada kelimpahan.”—Mazmur 72:16.
  • Orang yang mendengarkan aku, ia akan berdiam dengan aman dan tidak terganggu oleh kegentaran terhadap malapetaka.”—Amsal 1:33.
Bahkan jika kita tinggal di daerah yang kondisinya relatif menyenangkan, kita semua menghadapi kemungkinan menjadi sakit dan mati. Hal-hal ini pun tidak akan ada lagi di dunia baru Allah. Karena itu, kita dapat menanti-nantikan untuk bertemu kembali dengan orang-orang tersayang yang telah meninggal. Perhatikanlah:
  • Tidak ada penghuni yang akan mengatakan, ’Aku sakit.’”—Yesaya 33:24.
  • [Allah] akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.”—Penyingkapan 21:4.
  • Sebagai musuh terakhir, kematian akan ditiadakan.”—1 Korintus 15:26.
  • Jamnya akan tiba ketika semua orang yang di dalam makam peringatan akan mendengar suara [Yesus] lalu keluar.”—Yohanes 5:28, 29.
Rasul Petrus dengan bagus sekali meringkaskan semua hal itu ketika ia menulis, ”Ada langit baru dan bumi baru yang kita nantikan sesuai dengan janjinya, dan keadilbenaran akan tinggal di dalamnya.” (2 Petrus 3:13) Agar keadilbenaran bisa ada di seluruh bumi, siapa pun yang bakal merusak kondisi tersebut harus disingkirkan. Demikian pula dengan bangsa-bangsa dewasa ini, yang menjadi biang keladi banyak konflik dan pertumpahan darah karena dengan egois mengejar kepentingan sendiri. Semua pemerintahan di bumi akan diganti oleh pemerintahan Kerajaan Allah di bawah Kristus. Mengenai pemerintahan tersebut, kita diyakinkan, ”Kekuasaannya yang sangat besar sebagai pangeran dan perdamaian tidak akan ada akhirnya, atas takhta Daud dan atas kerajaannya agar itu ditetapkan dengan kokoh dan ditunjang dengan keadilan dan dengan keadilbenaran, dari sekarang sampai waktu yang tidak tertentu. Gairah Yehuwa yang berbala tentara akan melakukan hal ini.”—Yesaya 9:7.


Anda bisa menikmati prospek ini, karena Alkitab meyakinkan kita, ”[Allah] menghendaki agar segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”. (1 Timotius 2:4) Jangan menunda-nunda. Perolehlah pengetahuan yang berarti kehidupan abadi. (Yohanes 17:3) Mulailah dengan menghubungi penerbit majalah ini dan meminta pelajaran Alkitab di rumah secara cuma-cuma.
Anda bisa menanti-nantikan untuk hidup selama-lamanya dalam kedamaian dan kesehatan yang sempurna di Firdaus mendatang di bumi ini
Appeared in Awake!  April 2008

Followers